Cerita Lahiran Part 2

 Assalamu'alaikum Bunda apa kabar hari ini?

Semoga sehat dan selalu dalam lindugan Allah Subhanahu Wa ta'ala aamiin


Afwan baru sempat menulis lagi, aku mau lanjutin cerita lahiranku yang di postingan sebelumnya.

Setelah sudah bukaan ke 4 di RS sore hari sekitar jam 4 an gitu ba'da ashar, aku dicek pakai alat cek detak jantung janin, dan lain sebagainya, disitu aku mulai mual-mual ga karuan dan posisi suami nunggu diluar karena kami berdua harus di swab terlebih dahulu, masa pandemi sungguh luar biasa diuji kesabarannya :')

Setelah swab alhamdulillah kami negatif, akhirnya suami boleh masuk nemenin saya yg sedang kontraksi, saat itu disuapin makan yg dapet dari tempat kerja suami "mango sticky rice" kalau orang sehat udah lap lep habis, ini malah tambah mual, bener-bener perut terakhir keisi makan siang aja.

Long story short, dicek kembali sudah pembukaan 5 ke 6 dan menuju ke ruang bersalin udah gatau itu jam berapa kayaknya isya yah. Aku memilih lahiran di rumah sakit ibu dan anak harapannya agar fasilitas dan tenaga perawatnya maksimal dan tentunya memilih dokter kandungan yang perempuan juga. 

Karena kan lahiran ya, kita bakalan terlihat auratnya sebagai muslimah saya dan suami juga sudah komit untuk memilih dokter kandungan perempuan, nggak kebayang kalau diurus dokter laki-laki seperti apa. pastinya risih sekali, ya walaupun sependek pengetahuan saya memang dalam Islam boleh berobat dengan dokter laki-laki jika memang yang ahli hanya dokter tersebut, namun sekarang kan Allah maha baik sudah banyak dokter kandungan perempuan yang juga ahli dalam bidangnya. Tapi tergantung pilihan masing-masing yaa :) Hanya saja mengambil yang sedikit mudharatnya, hehe

Tak lama kemudian pukul 11 kurang 10 alhamdulillah anakku lahir tanpa diberi obat pacu atau apapun, tapi ngedennya juga MasyaAllah, bener-bener kalau tanpa Kuasa Allah nggak bisa deh aku sendirian. Kemudian dokterku langsung kasih anakku ke dadaku selama beberapa menit dan suami meng adzankan anakku di kedua telinganya, Sungguh nikmat Allah tak ternilai, kami menangis haru. Tetapi tiba-tiba aku merasa kok lama sekali dijahitnya setelah lahiran, dan aku mendengar dokter berkata "kok ini darahnya ga berhenti2 ya" , disitu aku mulai panik ternyata aku mengalami pendarahan. Aku muntah banyak banget warna muntahannya hitam pekat entah itu apa, akhirnya transfusi darah 1 kantong lalu ibukku datang menemaniku membawakan nasi. 

Sembari transfusi aku disuapin ibukku dan suamiku bergantian sholat, saat itu rasanya aku seperti melayang, takut nggak kuat, mikirin anakku dimana, padahal anakku sudah dirawat oleh perawat dan ternyata bayi lahir dapat bertahan selama 2/3 hari tanpa menyusu, ini aku juga baru tau dari suster. 

Selesai transfusi darah sekitar jam 4 pagi masuk ke kamar inap, masih mual-mual nggak bisa tidur, suami dan ibu sudah tidur, masih kepikiran anakku sambil lemes. Lalu aku bisa tidur hingga subuh, sekitar 1 jam tapi berasa lamaa sekali qodarullah. Kemudian pagi di visit  suster utk cek kondisiku, baru bertemu anakku Nizam sekitar jam 9 pagi sudah dimandikan juga, dan diajarin menyusui secara langsung. 

Begitulah cerita lahiranku, semoga bisa bermanfaat 

Thankyou, next bahas apa lagi ya Bun? 😀

Comments

Popular posts from this blog

Assalamu'alaikum Bund!

Laptop ASUS VIVOBOOK 14 K413EQ jadi andalan bagi Ibu Produktif